Budhy Munawar-Rachman: Cak Nur Itu Seorang Teolog Yang Visioner

12/09/2005

Kepergian Cak Nur masih membawa duka dan kenangan di hati para pengagum dan pembacanya. Untuk mengungkap gagasan-gagasan Cak Nur, Novriantoni dari Jaringan Islam Liberal (JIL) berbincang-bincang dengan Budhy Munawar-Rachman, dosen Universitas Paramadina dan Direktur Center for Spirituality and Leadership, Kamis (1/9) lalu.

NOVRIANTONI: Mas Budhy, bagaimana perasaan Anda ketika mangkatnya Cak Nur?

BUDHY MUNAWAR-RACHMAN: Kita semua sangat berduka. Kita tahu, apa yang dia pikirkan selama ini selalu punya dampak besar dalam perkembangan keislaman dan keindonesiaan secara keseluruhan. Cak Nur bukan saja seorang pemikir Islam, tapi juga seorang cendekiawan Indonesia. Karena itu istilah “guru bangsa” sudah sangat tepat disematkan padanya. Sebagai guru bangsa, pikiran-pikirannya bisa dibandingkan dengan Soekarno, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Cokroaminoto, dan lain sebagainya. Jadi Cak Nur memang layak menyandang gelar guru bangsa. 


Nah, kalau pepatah mengatakan “harimau mati meninggalkan belang; manusia mati meninggalkan nama”, saya ingat Cak Nur juga sering mengemukakan arti sebuah reputasi. Kalau sudah meninggal, seseorang sebenarnya akan meninggalkan reputasi yang bisa baik dan bisa buruk. Biasanya, Cak Nur suka memberi contoh tentang orang-orang seperti Aristoteles ataupun Socrates yang masih dikenang meski sudah wafat 2500 tahun lalu. Itu luar biasa. Artinya, apa yang ditinggalkan seorang yang punya reputasi baik akan selalu hidup. Dan semua itu biasanya sangat berkaitan dengan karya. Walaupun jasad atau fisik mereka sudah tiada, tapi ruh, spirit, dan pikiran-pikiran mereka masih saja bersama kita.

Nah, dalam konteks itu, pikiran-pikiran Cak Nur masih menginspirasi, dan tetap mungkin mengganggu kita. Sejauh membaca banyak karya-karya Cak Nur--dan saya juga sedang mempersiapkan Ensiklopedi Pikiran-pikiran Cak Nur—gagasan-gagasannya boleh dikatakan jauh melambung ke depan. Pikiran-pikirannya mungkin bukan untuk saat ini, tapi untuk satu generasi ke depan. Jadi, melampaui zamannya; itulah istilah yang cocok.

NOVRIANTONI: Apa saja butir-butir penting pemikiran Cak Nur menurut Anda?

Kalau memakai kategori Charles Kurzman dalam bukunya Wacana Islam Liberal, isu paling kontroversial di dunia Islam saat ini ada enam perkara. Yaitu melawan teokrasi, isu demokrasi, isu gender atau feminisme, pluralisme, kebebasan berpikir, dan bagaimana menerima paham kemajuan. Dari keenam isu itu, Cak Nur hampir sudah mengolah semuanya. Kalau kita selidiki pikiran-pikiran dan tulisan-tulisannya, sebenarnya Cak Nur sudah punya pendapat pada hampir semua hal yang dikemukakan Kurzman.

Ketika orang punya perhatian soal agama dan negara, maka dia akan mengingat Cak Nur dengan gagasannya tentang sekularisasi, soal “Islam, yes; partai Islam, no?”, soal pemisahan yang relatif antara agama dan negara, dan seterusnya. Kalau dia seorang pengamat pluralisme, mereka akan ingat paham-paham inklusivisme beragama Cak Nur. Jadi dia sudah punya kontribusi dalam 6 bidang itu. Hampir semua soal itu telah dia olah, terutama berkaitan dengan metodelogi. Dia juga sangat mendukung kebebasaban berpikir dan menegaskan pentingnya mengaktualkan kembali Alquran.

NOVRIANTONI: Mas Budhy, konon Cak Nur meralat slogan “Islam, yes; partai Islam, no?” setelah melihat perkembangan partai Islam yang cukup menarik di era reformasi. Anda pernah mendengar ralat Cak Nur?

Saya kira tidak. Pernyataan itu dulunya dibuat Cak Nur bukan dengan tanda seru, tapi tanda tanya: “Islam, yes; partai Islam, no?” Karena itu, sebenarnya masih terbuka perdebatan apakah formulanya harus begitu. Soal lain dalam pikiran Cak Nur adalah soal sekuralisasi atau sekularisme dalam politik. Secara substansial, pikiran Cak Nur tentang poin ini tidak sekeras paham sekularisme yang berkembang di Eropa. Dia mungkin lebih dekat dengan faham sekuralisme Amerika; di mana negara sebenarnya tidak turut campur dalam masalah-masalah agama tapi perkembangan agama di masyarakat juga betul-betul diberi tempat. Kebebasan beragama dijaga betul.

Nah, pikiran-pikiran Cak Nur itu lebih dekat ke situ. Karena itu, dia seringkali mengutip Robert N Bellah, sebagai kutipan kesayangannya. Dia selalu mengutip pernyataan Bellah yang memuji-muji kemoderenan Islam di masa lampau. Menurut saya, ketika kini terjadi banyak kasus seperti isu Ahmadiyah, penutupan rumah ibadah umat Kristen di Jawa Barat, semua itu jelas berkaitan dengan soal-soal yang telah Cak Nur pikirkan.

Tapi Cak Nur juga ada di masa ketika dia perlu lebih pragmatis. Misalnya, di tahun 1977 dia ikut kampanye Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dengan alasan memompa ban kempes. Waktu itu, PPP tidak punya arti apa-apa; hanya partai setengah. Ketika ada tiga partai, dia tidak punya nilai apa-apa. Cak Nur coba memompa ban kempes. Tapi itu hanya situasi pragmatis. Ada tuntutan-tuntutan seperti itu ketika dia mau mengikuti konvensi Partai Golkar untuk pencalonan sebagai presiden. Menurut saya, itu hanya tindakan pragmatis. Tapi dari segi substansi, Cak Nur tidak pernah berubah.

NOVRIANTONI: Bagaimana perbedaan sekularisasi di Eropa dengan di Amerika, dan apa yang dihendaki Cak Nur dari sekularisasi?

Kalau diartikan dari segi politik, maka sekularisasi berarti pemisahan agama dan negara secara relatif atau tidak mutlak. Di Eropa, sekularisasi cenderung ke arah yang mutlak seperti paham antiklerikisme buah Revolusi Prancis. Di Amerika, sekularisasi justru tidak begitu. Alexis de Tocqueville yang juga sering dikutip Cak Nur malah heran kenapa sekularisme malah membuat agama tumbuh pesat di Amerika. Diana L. Eck, profesor dari Harvard University yang kemarin berkunjung ke Indonesia juga datang dengan kejutan bahwa agama di Amerika ternyata tumbuh pesat seperti di Indonesia.

Tapi kebebasan semua dijamin ketat oleh konstitusi. Kalau mau membikin aliran pemikiran apa pun, bahkan agama baru sekali pun, di sana bisa dimungkinkan, asal tidak mengganggu hak asasi dan kebebasan orang lain. Semua itu dilindungi. Ateisme dibolehkan, tapi semua agama juga bisa berkembang dengan sangat pesat. Sekularisme di sana justru memunculkan perkembangan keagamaan. Karena itu, tesis Harvey Cox dalam The Secular City yang dulu orang duga juga sering dikutip Cak Nur, ternyata tidak berlaku. Malahan, dia mengoreksinya dengan tesis secular religion and secular city. Di situ dia mengoreksi pandangannya mengenai perkembangan agama di Amerika yang justru makin pesat.

Nah, ini berbeda dengan di Eropa. Di tanah Eropa, agama sebetulnya merosot sekali. Kalau mendenger cerita teman-teman Kristiani, saat ini di sana terjadi gejala kekurangan pendeta, pastur, dan suster. Karena itu mereka mengimpor dari Asia, misalnya. Indonesia termasuk negara pengimpor pastur dan pendeta yang cukup banyak, seperti ke Belanda. Jadi, sekularisme di Eropa membuat agama meredup dan ditinggalkan masyarakat, tapi di Amerika tidak. Sekularisme yang dibayangkan Cak Nur adalah seperti yang berlangsung di Amerika.

Bagaimana gambaran sekularisasi di Eropa dan di Amerika pada tingkat yang lebih detil?

Mungkin di sini bedanya Gus Dur dengan Cak Nur. Bagi Gus Dur, sekularisme itu idealnya seperti di India. Negara tegas mengemukakan bahwa asas negara adalah sekularisme atau pemisahan tegas antara negara dan institusi agama. Karena itu, di India tidak mungkin ada departemen agama. Tapi sekularisme di India juga berarti anti-komunalisme dan kekerasan-kekerasan atas nama agama. Namun saat ini, di India juga terjadi tarik menarik antara agama dan negara. Partai Hindu yang belakangan menjadi sangat fundamentalis, menginginkan India menjadi negara Hindu.

Nah, dalam sekularisasi yang dibayangkan Cak Nur, agama tetap dapat memberi support nilai. Itulah yang Cak Nur pikirkan mengenai Pancasila. Dan itu jugalah salah satu pemikiran Cak Nur yang belum dielaborasi lebih luas. Menurut saya, kalau Cak Nur menulis satu buku saja tentang Pancasila, itu pasti akan berdampak besar. Tapi itu belum sempat dia lakukan. Tapi dalam banyak tulisan-tulisan lepasnya yang bicara soal Pancasila, dia sempat mengatakan bahwa Pancasila adalah common platform semua agama-agama di Indonesia. Semua agama bisa sharing mengenai nilai-nilai yang ditransendensikan untuk bisa diakses siapa pun. Dalam konteks Islam, dia memakai paham universalisme Islam sebagai agama yang bisa dijadikan inspirasi oleh penganut agama apa pun.

NOVRIANTONI: Artinya dia perlu menjadi garam dan tidak perlu menjadi wadah?

Yang menjadi wadah kehidupan keagamaan itu sebenarnya komunitas. Tapi bukan komunitas di ruang publik. Biasanya, dalam sekularisme ditegaskan soal pembedaan itu. Di Prancis, kita tidak boleh menggunakan atribut-atribut keagamaan di jalanan. Pastur tidak boleh mengenakan jubah pastoralnya di jalan. Karena itu masih ada masalah perempuan muslim yang memakai jilbab di sekolah menengah ke bawah di Prancis. Nah, yang Cak Nur bayangkan tentang sekularisme tidak seekstrim itu, melainkan tetap dapat memberi kontribusi terhadap kebajikan hidup publik.

NOVRIANTONI: Paling tidak atau level apa kontribusinya?

Pada level etika individu yang meluas menjadi etika publik. Tapi menurut Cak Nur, sayangnya orang Islam justru kurang di level ini. Jadi antara aspek doktrinal orang Islam dengan perilakunya jauh berjarak seperti bumi dan langit. Di sini Cak Nur membedakan antara keberagaman simbolik dengan keberagamaan substansial. Cak Nur menentang simbolisme yang berlebihan dalam keberagamaan, walaupun dia juga tidak menegasikan pentingnya simbolisme. Tanpa simbol, orang tidak mungkin bisa mencapai yang Ilahi.

Tapi, Cak Nur juga sangat prihatin akan makin kuatnya formalisme agama, terlebih kalau menjadi radikalisme atau fundamentalisme. Ketika dia membuat paper mengenai pesan-pesan kepada generasi muda di tahun 1992, salah satu pesannya adalah perlunya mengemukakan suatu paham dan praktik keislaman sebenarnya. Dia memakai istilah hanifi’atus samhah atau corak keberagamaan yang toleran dan penuh kelapangan. Corak keberagamaan di Indonesia yang selalu dikemukakan Cak Nur adalah Islam yang lapang dan penuh toleran itu. Islam untuk semua yang berlawanan dengan berbagai formalisme, fundamentalisme, dan termasuk di dalamnya pengkultusan.

NOVRIANTONI: Mas Budhy, nampaknya Cak Nur tidak banyak berbicara soal kesetaraan gender?

Ya. Saya jadi teringat ketika peluncuran buku yang memang secara khusus ditulis Cak Nur, Indonesia Kita. Di dalamnya ada sepuluh platform mengenai reformasi yang dulu sempat dijanjikan akan diimplementasikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kalau dia jadi presiden. Ketika peluncuran buku itu, kaum feminis mengritik Cak Nur karena dari sepuluh platform itu tidak ada isu gender. Bagi mereka, mestinya satu dari sepuluh platform itu adalah soal kesetaraan gender.

Ini satu kritik yang saya kira ada benarnya. Kalau kita menelaah pikiran-pikiran Cak Nur, memang sangat sedikit yang berbicara isu gender. Padahal, perkembangan kesadaran kritis kalangan feminis muslim saat ini berkembang paling pesat dari semua isu yang diusung lainnya. Gagasan-gagasannya juga paling berani dan paling maju dengan bermacam terobosan pembaharuannya.

NOVRIANTONI: Saya kira, Undang-Undang Anti Kekerasan di Dalam Rumah Tangga (UU-KDRT) merupakan salah satu contohnya?

Betul. Nah, orang sering mengritik Cak Nur dalam soal ini. Tapi menurut saya, kalau kita adil terhadap Cak Nur, kita dapat memaklumi bahwa Cak Nur menganggap isu itu taken for granted saja. Maksudnya, dia sangat yakin, seperti para modernis Islam umumnya, bahwa pemikiran kalangan modernis jelas akan membela kesetaraan gender. Problemnya, Cak Nur tidak mengelaborasinya lebih lanjut dan itu tidak bisa diterima kalangan feminis.

NOVRIANTONI: Artinya, Cak Nur menganggap isu itu sudah tersirat dalam paket pembaruannya?

Analoginya seperti kalangan modernis menerima ilmu pengetahuan modern, demokrasi, dan paham kemajuan sebagai satu paket. Dalam paket itu, kesetaraan gender jelas termuat. Tapi sebenarnya Cak Nur juga punya beberapa pandangan soal gender di dalam beberapa papernya di Klub Kajian Agama (KKA) Paramadina. Dia pernah mengemukakan, kesetaraan gender memang diakui di dalam Islam. Cuma seperti biasa, Cak Nur tidak mengatakan kepada kita bahwa di banyak dunia muslim, kesetaraan gender nyatanya tidak ada atau kurang tampak.

NOVRIANTONI: Jadi Cak Nur tampak selalu berkutat dengan visi-visi besar?

Dia fokus pada visi-visi besar Alquran mengenai kesetaraan gender dan lain-lain. Dalam visi besar itu, Cak Nur bisa bertemu dengan kaum feminis. Tapi perbedaannya, Cak Nur tidak menjelaskan problem-problem nyata yang muncul dalam soal ini dan soal-soal lainnya. Di dalam pembahasan tentang pluralisme, Cak Nur misalnya tidak mengungkap kenyataan-kenyataan diskriminatif atas kalangan non-muslim.

NOVRIANTONI: Apakah dapat dikatakan bahwa gagasan-gagasan Cak Nur kurang sosiologis?

Dia memang seorang visioner. Menjadi visioner itu yang justru tempat dan peran Cak Nur sebenarnya. Dia sebenarnya menggariskan paham Islam yang shâlih likulli zamân wa makân (Islam yang relevan untuk tiap masa dan tempat—Red). Jadi, yang dia gali adalah Islam universalnya. Dia menunjukan bahwa apa yang utama dan apa yang hebat dalam pandangan-pandangan zaman sekarang, serta penemuan-penemuan jenius kemanusiaan modern, sebenarnya tidak asing di dalam khazanah Islam. Dia mau menunjukkan itu dalam soal sains, dan demokrasi. Dia ingin menunjukkan akarnya di dalam Islam.

NOVRIANTONI: Menurut penilaian pribadi Anda, apakah itu bukan bentuk apologisme?

Ya. Itulah kritik kalangan neo-modernis terhadap kalangan modernis atau kalangan neo-revivalis terhadap kalangan modernis lama seperti Muhammad Abduh, Muhammad Iqbal, dan sebagainya. Mereka seolah-olah mau mengatakan bahwa apa yang baik di Barat sana adalah Islam.

Tapi sebetulnya hal seperti itu juga dilakukan para neo-modernis seperti Fazlur Rahman, gurunya Cak Nur. Dia coba mengaitkan semua itu dengan dasar Qur’anik dan tradisi Islam yang kuat. Jadi dia sebetulnya juga memperhatikan sejarah dan kenyataan, tetapi yang selalu dilihat adalah kenyataan yang positif mendukung keagungan Islam. Misalnya klaim bahwa Islam itu sejak dulu sangat menghargai pluralisme. Fakta sejarahnya dia kemukakan dari sarjana-sarjana Barat seperti Bernard Lewis, dan salah satu kutipan kesayangan Cak Nur lainnya, Bertrand Russel. Dia juga mengutip Cyril Galsse yang menulis The New Encyclopedia of Islam. Di situ, Cyril mengatakan bahwa pada zaman itu (abad ke-7 M) untuk pertama kalinya sebuah wahyu (Alquran) menegaskan tentang kebenaran agama lain. Sebuah bentuk inklusivisme yang paling awal.

NOVRIANTONI: Jadi Cak Nur mampu membangun paham keagamaan inklusif dari khazanah Islam?

Ya. Dalam soal ini, Cak Nur boleh dikatakan sebagai seorang teolog. Memang pekerjaan teolog seperti itu; membuat visi teologis, tapi kadang-kadang tidak historis. Artinya, banyak problem-problem nyata yang tidak dikemukakan langsung. Dan mungkin, Cak Nur memang ingin meninggalkan hal-hal yang problematis di masa lalu Islam. Dia ingin berangkat dari Alquran yang visioner.

Post a Comment

© terjeru.co. All rights reserved. Premium By Raushan Design